Profil Singkat
KH. Anwar Iskandar adalah seorang kiai senior berkarisma tinggi yang lahir di Desa Berasan, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada tanggal 24 April 1950. Beliau dibesarkan dalam tradisi pesantren yang sangat kuat dan merupakan putra dari KH. Iskandar, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum di Muncar, Banyuwangi.
Dedikasi beliau terhadap keilmuan Islam, pembinaan moral masyarakat, serta pengembangan nasionalisme telah menempatkan beliau sebagai tokoh ulama terpandang baik di tingkat regional Jawa Timur maupun di level nasional.
Perjalanan Pendidikan & Nyantri
Perjalanan hidup Kiai Anwar Iskandar diwarnai oleh pendidikan yang komprehensif, baik pendidikan keagamaan tradisional (salaf) maupun pendidikan formal modern. Fondasi ilmu agama beliau dapatkan pertama kali di bawah bimbingan langsung ayahnya di Pesantren Mambaul Ulum Banyuwangi saat menamatkan jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Setamatnya dari pesantren sang ayah, beliau melanglang buana untuk nyantri dan memperdalam ilmu alat (nahwu-shorof), fikih, tafsir, dan tasawuf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang terkenal sebagai salah satu kiblat pendidikan salaf di Nusantara. Sambil mendalami tradisi salafiyah di Lirboyo, beliau tetap melanjutkan studi formal ke jenjang Madrasah Aliyah (MA) serta berhasil meraih gelar Sarjana Muda (Bachelor of Arts) di Perguruan Tinggi Tribakti Kediri.
Semangat belajar Kiai Anwar tidak berhenti di Kediri. Pada tahun 1970, beliau merantau ke Jakarta untuk menyelesaikan program sarjana S1 jurusan Sastra Arab di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), mematangkan kedalaman bahasa Arab dan literatur Islam klasik secara akademis.
Khidmah di Nahdlatul Ulama & MUI
Sejak usia muda, KH. Anwar Iskandar telah aktif menuangkan tenaganya untuk perjuangan jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Sisi aktivisme Kiai Anwar dimulai secara resmi pada tahun 1975 ketika beliau mendapat amanah besar memimpin Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kota Kediri selama dua periode berturut-turut (delapan tahun).
Khidmah perjuangan beliau terus naik secara struktural di NU. Beliau dipercaya memangku posisi Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kediri, hingga kemudian dipercaya mengemban jabatan sebagai Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, menyumbang pemikiran strategis keagamaan bagi provinsi dengan basis massa NU terbesar.
"Pesantren dan Nahdlatul Ulama adalah pilar utama dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama'ah serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia."
Di tingkat nasional, kedalaman keilmuan dan kebijaksanaan Kiai Anwar diakui luas. Beliau terpilih menjabat sebagai Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2022-2027 mendampingi Rais Aam. Selain berkiprah di struktural NU, beliau juga dipercaya mengemban amanah keumatan yang amat prestisius sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat untuk masa khidmah 2026-2031, menuntun umat Islam Indonesia melalui fatwa, dakwah, dan fatwa sosial.
Pernikahan, Keluarga & Yayasan
Di tahun yang sama saat merintis kepemimpinan di GP Ansor (1975), Kiai Anwar Iskandar mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. Qoni'atus Zahro, putri dari Pengasuh Pondok Pesantren Assa'idiyah Jamsaren, Kediri. Pernikahan agung ini dikaruniai enam orang putra dan putri yang turut meneruskan estafet keilmuan.
Kemudian pada tahun 1990, beliau kembali membina rumah tangga dengan menikah dengan Nyai Hj. Yayan Handayani dan dikaruniai empat orang anak. Keluarga besar dzuriyyah ini kini menetap dan mengasuh santri di kawasan Pondok Pesantren Al-Amien, Kediri.
Kiai Anwar Iskandar merupakan pendiri sekaligus pengasuh utama dari dua lembaga pendidikan besar di Kediri yang berada di bawah naungan Yayasan Assa'idiyah (Jamsaren) dan Yayasan Al-Amin (Rejomulyo). Lembaga-lembaga ini mengintegrasikan pendidikan salafiyah diniyah dengan sekolah formal (KB, TK, SD, MTs, MA, hingga sekolah kejuruan/SMK).
Kiprah Politik & Kebangsaan
Di samping khidmah keagamaan dan kepengasuhan pesantren, KH. Anwar Iskandar juga dikenal sebagai salah satu ulama yang aktif di ranah politik kebangsaan. Setelah runtuhnya era Orde Baru pada tahun 1998, beliau turut mengawal lahirnya era reformasi dengan menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) wilayah Jawa Timur.
Komitmennya pada jalur kenegaraan dan aspirasi daerah membawanya terpilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) sebagai utusan daerah Jawa Timur, menyuarakan kesejahteraan pesantren dan keadilan sosial bagi masyarakat daerah.
Hingga hari ini, sebagai Pembina utama Yayasan Pendidikan Assa'idiyah dan Al-Amin, Kiai Anwar terus mencurahkan sisa energinya untuk dunia pendidikan guna melahirkan generasi muda islami yang intelek, nasionalis, dan memegang teguh tradisi Islam Nusantara yang ramah dan damai.